Rabu, 17 September 2014

Mendalami Masa REmaja Part 4


·         hambatan – hambatan yang dialami Remaja
selain menghadapi konflik dengan pihak luar ( eksternal), remaja juga menghadapi konflik internal yang kemunculannya sebagai akibat dari penerimaan pola – pola yang diberikan orang tua dan orang dewasa pada dirinya . Beberapa hambatan itu antara lain :
a.    Dasar yang buruk
remaja yang tidak lancar daalm melakukan tugas perkembangannya di amsa anak – anak berarti memiliki dasar yang buruk untuk memasuki masa remaja dengan baik. ketidaklancaran tugas perkembangan ini akan memberatkan tugas – tugas perkembangan selanjutnya di masa remaja. sebagai contoh, tugas perkembangan di masa anak – anak adalah kemampuan beradaptasi dengan teman – temannya . Tugas perkembangan di amsa anak – anak ini akan dilanjutkan dengan kualitas yang bertambah yaitu mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab . tugas ini akan merasa sulit jika kemampuan adaptasi di amsa anak – anak masih belum tercapai dengan sempurna . Dasar yang buruk membuat PR bagi remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangannya semakin sulit.
b.    terlalu lama dimanjakan
hambatan berikutnya adalah meberikan kemanjaan terlalu lama saat anak – anak . Anak – anak yang dimanjakan akan menjadi remaja yang egois, aemaunya sendiri, dan tidak peduli pada aturan – aturan . Pemanjaan tidak mengajarkan anak – anak ruang batasan – batasan dan kepentingan yang harus ditaati menyangkut kehidupan orang atau masyarakat di luar dirinya. akibatnya rasa kepedulian sosialnya menjadi tumpul , padahal kemampuan mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab menjadi tugas penting dalam perkembangan remaja.
c.     tetap diperlakukan seperti Anak – anak
selai pemanjaan yang berkepanjangan, memperlakukan remaja tetap seperti anak – anak akan memperlambat kematangan remaja untuk sukses melaksanakan tugas perkembangannya . biasanya yang melakukan ini adalah orang tua yang memiliki kekhawatiran terlalu tinggi terhadap anaknya , sehingga memberikan perlindungan berlebihan (over protected) . Orang tua belum percaya anaknya yang sudah remaja akan mampu mandiri , sehingga orang tua pun jarang atau bahkan tidak memberikan kesempatan sama sekali bagi anak untuk mengembangkan diri dengan bertanggung jawab . Akhirnya remaja tersebut terlambat untuk matang.
Dampak dari hal ini bisa mengarah kepada banyak hal lain yang semakin menghambat kesuksesan tugas perkembangannya yaitu munculnya rasa minder karena dicemooh teman – teman remaja seusianya yang telah lebih dulu matang . Bisa – bisa remaja seperti ini akan mendapat label sebagai “ anak mama” dari teman- temannya . Bila terjadi tentu akan menjadi pengaruh negative bagi remaja tersebut.
d.    perubahan peran
Berlawanan denagn memperlakukan remaja tetap seperti anak – anak , perubahan peran akibat kondisi yang datang tiba – tiba pun dapat menjadi penghambat kesuksessan tugas perkembangan . Perubahan peran tersebut contohnya adaa;lh karena orang tua meninggal dunia atau karena putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi , maka remaja tiba – tiba harus mengubah peran dirinya menjadi pengganti orang tua yang harus bekerja mencari nafkah. perubahan peran ini sebenarnya bisa berdampak positif bagi remaja karena justru cepat mencapai kematangan, namun bila keadaannya terlalu ceapt, maka remaja kurang siap dan perubahan peran yang tiba – tiba pun dapat merampas sebagian masa remajanya . Waktu untuk bersosialisasi dan beradaptasi menjadi kurang karena terkuras untuk mencari nafkah.
     Hal yang terjadi pada remaja – remaja yang sejak kecil sudah menjalani profesi – profesi yang membutuhkan banyak konsentrasi sehingga kurang memberikan waktu untuk bersosialisasi . seperti misalnya anak – anak atau renaja yang berprofesi sebagai atlet oahraga dan artis. Remaja tersebut mau tidak mau – karena tuntutan profesi – harus rela melepas masa anak – anak dan remajanya untuk berfokus pada profesinya.

Rabu, 20 Agustus 2014

Mendalami masa Remaja part 1


MENDALAMI MASA REMAJA
          Seperti yang kita ketahui bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak- anak menuju masa dewasa. maka akan dapat dipahami bahwa masa remaja memiliki kompleksitas masalah yang tak mudah di selesaikan oleh orang dewasa. kompleksitas itu muncul dari adanya gejolak dan tekanan dari internal pribadi remaja tersebut dan tekanan eksteral berupa tuntutab dari lingkungan sosial yang meminta perubahan adaptasi remaja dengan segera .
a.  Arti Bahasa
kata Remaja berasaldari terjemahan bahasa inggris adolescence  dan bahasa latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia kata remaja memiliki 3 arti yakni : “ mulai dewasa “ , “ sudah sampai umur untuk kawin “ , dan” masa muda”.
          Pada Zaman dulu masa remaja sebagai salah satu tahapan perkembangan manusia belum begitu dikenal. remaja sudah dianggap sebagai masa dewasa karena sudah mencapai kematangan seksual dan mampu melakukan reproduksi . pandangan seperti ini masih terbawa pada beberapa decade terakhir , terutama di masyarakat tradisional dimana sering kita jumpai remaja melakukan pernikahan saat usianya baru lima belas tahun atau enam belas tahun.
          sekarang di zaman modern ini remaja memiliki arti yang lebih luas lagi , yakni suatu masa yang sedang mencapai kematangan mental , emosional , sosial dan fisik . Piaget, seorang tokoh pendidikan dan perkembangan menyatakan pandangannya tentang masa remaja :
” Masa Remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang – orang yang lebih tua  melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang – kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat ( DEWASA) mempunyai banyak aspek efektif , kurang lebih berhubungan dengan masa puber, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. “
b.   Ciri –ciri Masa Remaja
sebagai sebuah bagian dan tahapan perkembanganmanusia , masa remaja memiliki cirri – ciri yang khas yang membedakannya dengan masa – masa sebelum atau masa sesudahnya. Hurlock  menerangkan cirri – cirri masa remaja itu antara lain :
1.   Masa REmaja SEbagai Periode Yang Penting
pada prinsipnya , semua tahapan perkembangan yang dilalui manusia adalah penting . Namun derajat kepentingan antara masing – masing tahapan itulah yang tidak sama. Ada tahapan perkembangan yang lebih penting . Masa remaja boleh dikatakan periode yang lebih penting  dari masa akhir anak – anak karena perubahan yang terjadi pada masa remaja ini lebih banyak mempengaruhi sikap dan perilaku remaja secara langsung dan cepat dibandingkan dengan masa akhir anak – anak .
     kemampuan adaptasi dan rintangan – rintangan yang di hadapi remaja untuk segera memahami persoalan dirinya ini menjadi dinamika yang unik dan berliku . Hal inilah yang menjadikan masa remaja sebagai periode yang penting tapi juga periode yang penuh kenangan yang tak mungkin terluakan bukan ?
2.   Masa Remaja sebagai periode Peralihan
yang dimaksud peralihan adalah perpindahan dari satu masa sebelumnya ke amsa berikutnya. Masa Remaja berarti meninggalkan masa anak – anak dan bersiap – siap memasuki a,sa dewasa. peralihan ini menimbulkan suasana ketidak jelasan dan keraguan , baik dalam pribadi remaja sendiri , maupun orang – orang dewasa yang memandang remaja dari luar .
     ketidak jelasan itu terwujud dalam bentuk masih bercampunya masa anak – anak dalam diri seorang remaja dan mulai tumbuhnya sikap orang dewasa meskipun baru samar – samar . karena itu ungkapan  “ remaja adalah anak – anak yang sudah kelewat besar dan orang dewasa yang masih kekecilan “ adalah ungkapan yang sering dikemukakan untu menggambarka periode peralihan ini . sebagai Remaja apakah kamu mengakui dan menyetujui ungkapan ini ?
3.   Masa REmaja sebagai Masa Perubahan
jika masa bayi adalah periode terjadinya perubahan yang radikal dengan titikberat pada perubahan fisik, maka  masa remaja ada;ah periode perubahan yang merata dan sama beratnya. artinya perubahan yang terjadi secara fisik diiringi dengan perubahan mental , sikap dan perilaku . Ada Empat perubahan yang hampir bersifat universal :
a.  perubahan emosi
remaja menjadi lebih sensitive dan emosional dibandingkan dengan anak – anak . Rasa sensitif dan emosional  ini bisa langsung tampak dalam perilaku. dan ada juga yang hanya dipendam sendiri . Masalah – masalah yang sepeleyang pada amasa anak – anak jarang menjadi masalah kini bisa menjadi bibit konflik dan perselilsihan .
b.   perubahan tubuh, minat , dan peran
perubahan tubuh terjadi pada awal remaja , tepatnya saat puber , yakni ketika terjadi kematangn fisik yang menandai kemampuan reproduksi. perubhan ini cukup mengagetkan dan menyulitkan remaj, khususnya di masa awal remaja. perubahan ini pula yang kemudian mengubah minat da peran yang ingindikerjakan oleh remaja. dulu saat anak – anak , masalah tentang pekerjaan, masa depan , dan cita – cita dengan mudah diucapkan . kini cita – cita itu harus di daur ulang lagi oleh remaja berkenaan dengan perubahan fisik yang ia alami  dan adanya tuntutan pera dari lingkungan sekitarnya, termasuk yang paling penting disisni adalah orang tua.
c.   perubahan NIlai – nilai
seiring dengan perubahan minat dan peran , berubah pua nilai – nilai yang sebelumnya dipercaya pada masa anak – anak . Dulu pada masa anak – anak , pergaulan atau memiliki banyak teman adalah sangat penting . kini di masa remaja , penilaian itu sedikit berubah , bukan pada jumlah teman yang dimiliki tapi sejauh mana teman atau pergaulan itu memberikan konntribusi yang berarti pada dirinya.
d.  Ambivalensi
Ambivalensi adalah sikap yang mendua atau mau – mau juga tidak mau. di satu sisi remaja banyak memiliki tuntutan , tapi di sisi lain rasa takut akan akibatnya itu juga besar. sebagai contoh :  remaja banyak meminta kebebasan tapi sering takut untuk dimintai pertanggungjawaban atas kebebasan yang sudah diberikan . sikap mendua ini lah yang menjadi persoalan konflik  internal yang cukup pelik bagi remaja .
4.  Masa REmaja sebagai Usia Bermasalah
dengan adanya masa peralihan dan perubahan seperti yang telah diuraikan sebelumnya , maka tak aneh bila masa remaja disebut sebagai usia bermasalah yang sulit diatasi . kesulitan itu disebabkan karena 2 hal . pertama , karena dimasa anak – anak dulu remaja – karena tradisi dan kebebasan – sudah terbias bila masalahnya diselesaikan oleh guru dan orang dewasa. sehingga saat remaja ingin menyelesaikan sendiri tidak mempunyai pengalaman dan keberanian. kedua , karena remaja kini merasa sudah mandiri sehingga menolak campur tangan orang dewasa untuk membantu masalahnya .kedua hal inilah yang menyebabkan masalah demi masalah datang silih berganti .
5.   Masa Remaja SEbagai masa mencari Identitas
dikatakan seperti itu karena remaja ingin melepaskan diri dari bayang – bayang orang tua dan orang dewasa yang selama ini dianggap teah melindungi dan melakuikan campur tangan terlalu jauh terhadap kehidupan pribadinya . Dalam pencarian identitas ini , remaja akan menyeleksi figure –n figure idola yang telah dianggap mewakili semua yang menjadi impiannya. figure – figure itu bisa datang dar bidang apa saja , artis film , bintang olahraga, tokoh politik ,aktivis kemanusiaan , dan lain sebagainya . gamar atau foto idolanya pun terpampang di dinding kamar mereka , di buku harian atau bahkan di dompet yang selalu dibawanya kemana – mana.
     selain pencarian figure , remaja juga melakukan upaya pencarian identitas dirinya dengan ikut dalam kelompok – kelompok yang biasa disebut geng . remaja merasakan eksistensinya dihargai dalam kelompok tersebut karena persamaan – persamaan pandngan nilai yang dianut dalam kelompok .kelemahan pribadinya sebagai individu dapat ditutupi dantara sesama dengan sikap solidaritas antar sesame anggota . akhirnya kepribadian melebur bersama karakter kelompok , cita- cita dan pandangan hidupnya disesuaikan dengan cita – cita dan pandangan kelompok . seluruh perlaku sampai cara berpakaian diidentikan dengan karakter kelompok. kemudian tinggal bagaimana kelompok itu berjalan kemudian , apakah mengarah kepada hal yang positif atau kah negative . Rasa solidaritas dalam kelompokm salngat tinggi melebihi perhatian remaja pada kepentingan pribadinya. kasus tawuran atau perkelahian antar geng berangkat dari kondisi seperti ini .
     yangmenjaikendala lagi kondisi lingkungan dan pola asuh dikeluarga Indonesia sejak dulu  kurang menekankan pada pengembangan keunggulan dan keberanian pribadi , akibatnya orang cenderung lebih bersemangat untuk berkelompok. cobakita lihat bagaimana seseorang yang kelihatannya kalem dan pendiam tiba- tiba bisa menjadi demikian  beringas saat terlibat [erkelahian kelompok , seperti tawuran dan baku hantam antarsuporter sepak bola di tanah air. semangat berkelompok ini pun tampak dalam pembentukan satgas , organisasi kedaerahan , dan perkumpulan semacamnya.
6.   Masa Remaja sebagai Usia yang menimbulkan ketakutan
yang dimaksud usia yang menimbulkan ketakutan adalah adanya stereotip ( penyamarataan )m yang berlaku di masyarakat bahwa remaja adalah masa yang penuh masalah dan kenegatifan sehingga menimbulkan ketakutan dikalangan orang dewasa untuk dapat mengatasi masalah remaja . stereotip ini terus terwujud karena hal – hal negative yang dilakukan remaja selalu dibicarakan di hampir semua media melebihi hal – hal positif . ketidak seimbangan ini pula yang secara tidak disadari juga membentuk pemahaman di alam bawah sadar remaja sendiri bhwa mereka memang pribadi yang penuh dengan masalah . pemahaman seperti ini pula yang kemudian juga ikut menimbulkan rasa ketakutan remaja terhadap dirinya sendiri .
     hal semacam ini sesuai dengan ilmu komunikasi yang menyatakan bahwa sesuatu yang terusmenerus disampaikan berulang – ulang akan menjadi fakta yang dibenarkan oleh orang – orang yang sering mendengarnya . bahkan sebuah kebohongan yang selalu dikatakan sebagai kebenaranpun akan dipercaya dlam kurun waktu tertentu bahwa kebohongan tersebut memang benar adanya.
7.   Masa REmaja sebagai masa yang tidak Realistik
maksudnya adalah bahwa remaja cenderung melihat segala sesuatu sesuai dengan apa yang ia inginkan , tidak sebagaimana adanya . remaja imgin orangtuanya , sahabatya , gurunya, pacarnya, dan semua yang berhubungan dengan dirinya berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan . akibatnya manakalaapa yang diinginkan tak sesuai denga kenyataan atau malah menjadi terbalik ,  ia pun mudah kecewa dan terbawa emosi . REspon remaja saat menghadapi  kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan inilah yang menambah interventarisasi masalah dari sekian banyak permasalahan tentang remaja .
     Respon itu bisa berupa emosi, frustasi atau putus asa yang pada akhirnya menumbuhkan perilaku – perilaku negative lainnya seperti narkoba , dan seks bebas . Narkoba dan seks bebas menjadi tempat pelarian bagi remaja untuk menyalurkan sumbatan – sumbatan emosi yang timbul akibat adanya kesenjangan antara keinginan dan kenyataan yang mereka temui . Narkoba dan seks bebas dianggap sebagai saluran emosi ( katarsis ) yang paling instan dan praktis .
8.   Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa
Ambang masa dewasa adalah batas – batas antara masa remaja dan masa dewasa . Batas – batas samar yang menjembatani peralihan dua masa yag berbeda semakin memaksa untuk segera mengidentikan diri sebagai orang yang benar – benar siap menjadi dewasa. berbagai perubahan pun diupayakan demi memenuhi penerimaan orang lain bahwa remaja sekarang telah pantas menjadi orang dewasa , antara lain dengan mengubah cara berpakaian lebih modis dan trendi , mencoba merokok bagi laki – laki , atau bahkan mencoba minuman keras . meskipun semua itu sudah dilakukan , remaja tetap saja merasa kurang atau belum pantas di sebut orang dewasa . ia pun akan melakukan apa saja agar citra atau image dirinya menunjukan bahwa ia adalh orang yang telah siap dewasa .

MENDALAMI MASA REMAJA PART 3

MENDALAMI MASA REMAJA
1.    Konflik – konflik  yang di sering dialami Remaja
Dalam melaksanakan tugas perkembangannya , tidak semua remaja sukses dan lancar menyelesaikannya hingga tuntas . ada saja hambatan – hambatan yang menghalangi remaja menjalankan tugas perkembangan hingga mencapai kematangan . Hambatan itu diantaranya adalah munculnya konflik yang bersifata internal yang berkecamuk di dalam pribadi remaja itu sendiri , maupun konflik eksternal dengan pihak lain seperti keluarga, guru , teman sebaya atau dengan orang dewasa lainnya .
A. konflik dengan keluarga
konflik dengan keluarga mungkin konflik umum yang sering terjadi pada remaja . beberapa penyebabnya adalah :
1.    perbedaan standar perilaku
konflik muncul saat remaja beranggapan bahwa standar perilaku yang ditetapkan oleh kedua orang tuanya saat ini sudah tidak relevan lagi dengan standar perilaku dirinya . standar perilaku itu bisa berbentuk oenentuan jam belajar , bagaimana memilih teman , cara berpakaian , samapai pada music yang didengar. “Mama sudah kuno”, “papa ketinggalan jaman “, adalah kata yang sering terlontar dari mulut remaja . itu adalah gambaran dari perbedaan standar perilaku tersebut .
          konflik itu semakin meruncing bila orang tua juga kurang bijaksana dalam memahami perubahan yang terjadi .Bahwa jaman sekarang sudah berbeda dengan jaman orang tua dulu waktu masih muda. pemaksaan perilaku yang diterapkan orang tua akan diterima dengan defensive oleh remaja .
2.    Metode Disiplin
penerapan metode disiplin adalah bagian dari standar perilaku yang diterapkan orang tua pada remaja . secara umum , metode disiplin yang biasa dijalankan para orang tua terbagi menjadi 3 pola yaitu : otoriter (keras), Permisif (lemah), dan demokratis yang memiliki banyak pilihan . Dari ketiga pola ini demokratis adalah pilihan yang terbaik karena memberikan banyak pilihan dan alternative kebijakan pada remaja maupun orang tua. demokratis tetap memberikan aturan walau juga menyediakan ruangan toleransi dengan alasan – alasan jelas dan bertanggung jawab . poladisiplin demokratis mendidik remaja menjadi lebih bertanggung jawab dan berani menerima resiko. Walau demikian , bukan berarti pola permisif dan otoriter tidak diperlukan . keduanya diperlukan tatkala waktu dan kondisinya memang membutuhkan . ada remaja yang pada waktu – waktu tertentu perlu dididik secara permisif . pada prinsipnya , penerapan pola disiplin ini sebaiknya disesuaikan dengan karakter remaja .
          konflik muncul jika penerapan suatu metode tidak sesuai dengan apa yang di inginkan remaja . Remaja menginginkan kebebasan , sebaliknya orang tua masih menganggap remajanya ini masih seperti anak kecil yang harus selalu dilindungi . bila dua kepentingan ini dari remaja dan orang tua tidak bertemu , maka remaja pun akan melakukan pemberontakan , secara langsung ataupun diam – diam , kembali kepada karakter remajanya . berdialog dan lesediaan orang tua untuk mendengarkan harapan anaknya yang sedang remaja adalah solusi yang terbaik untuk menyelesaikan konflik ini. SEbaliknya, sebagai remaja kamu juga perlu belajar untuk tidak memaksakan kehendak serta biasakan untuk berfikir mencari cara bagaimana membuka dialog dengan orang tua.
3.    Pemberia hukuman yang kurang proporsional
pada remaja yang  keluarganya menerapkan pola asuh otoriter , ketegasan dan kekerasan menjadi cirri utamanya . Tak jarang pemberian hukuman pun dilakukan sebagai upaya member efek jera padakesalahan dan pelanggaran disiplin dalam aturan keluarga. Bagi remaja , penerapan hukuman yang diterimanya di masa anak – anak dulu sudah tidak prosporsional lagi untuk dirinya saat ini . Remaja merasa sudah bukan anak – anak lagi sehingga pemberian hukuman tak pantas ia terima, walaupun dirinya melanggar peraturan keluarga. prostes atas hukuman yang di terima anak dari orang tuanya, akan memunculkan konflik antara anak dengan orang tuanya .
B.  Konflik dengan sodara Kandung
ketika anak – anak , mungkin kamu sering bertengkar dengan kakak atau adik mu . Pertengkaran itu berawal Dari hal – hal yang sepele seperti rebutan mainan atau karena diusili oleh kakak atau adik . kini di saat remaja, pertengkaran itu bisa kembali berlanjut dengan skala dan bentuk yang berbeda. kamu bisa bertengkar dengan kakk atau adik mu karena merasa diperlakukan tidak adil . Kamu merasa bahwa orangtuamu lebih sayang dan lebih perhatian pada kakak dan adik mu daripada dirimu. atau seperti pada saat pertengkaran muncul karena memperebutkan fasilitas yang ada seperti motor, computer, atau mobil.
     Hampir sama dengan cara menghadapi konflik dengan orang tua , kamu perlu belajar menahan diri menghadapi konflik ini . perasaan mendapat perlakuan yang berbeda dari orang tua perlu diteliti lebih dalam lagi apakah itu obyaktif atau sekedar rasa iri saja, karena bagaimanapun orang tua pasti akan selalu sayang pada semua anaknya tanpa membeda – bedakan . selanjutnya , kamu juga perlu melakukan dialog yang terbuka dan hangat dengan kakak atau adikmu . yakinlah bahwa ikatan persaudaraan kandung kalian jauh lebih penting dari konflik – konflik yang muncul diantara kalian . konflik akan mudah terselesaikan bial kalian mengingat persamaan ini, sebagai sesame saudara kandung yang mempunyai tugas sama ,yaitu membina keharmonisan keluarga.
C.   merasa menjadi Korban
pergaulan sosial lebih sering menuntut remaja untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan dimana dan dengan siapa ia bergaul . kecenderungan remaj akan memilih lingkungan dengan tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi atau paling tidak setara dengan tingkat sosial ekonomi keluarganya. hal ini mengakibatkan timbulnya perasaan bahwa dirinya pun harus memiliki fasilitas – fasilitas  yang setara dengan temannya. BIla temannya ada yang mempunayi motor , pakaian bagus, alat musik atau bahkan mobil – meskipun milik orang tuanya -  maka ia pun ingin memilikinya .
     keinginan ini mungkin tidak terlalu bermasalah bagi remaja yang berasal dari keluarga mampu, namun bagi remaja yang kurang mampu, remaja itu mearsa menjadi korban dari ketidakmampuan orang tua nya. Bila remaja tersebut merasa bahwa keinginannya harus terpenuhi, maka besar kemungkinan ia akan banyak meminta (merengek) kepada orang tuanya. Permintaan inilah yang akhirnya akan menimbulkan konflik dan pertentangan baru antara orang tua dan remaja.