Rabu, 20 Agustus 2014

MENDALAMI MASA REMAJA PART 3

MENDALAMI MASA REMAJA
1.    Konflik – konflik  yang di sering dialami Remaja
Dalam melaksanakan tugas perkembangannya , tidak semua remaja sukses dan lancar menyelesaikannya hingga tuntas . ada saja hambatan – hambatan yang menghalangi remaja menjalankan tugas perkembangan hingga mencapai kematangan . Hambatan itu diantaranya adalah munculnya konflik yang bersifata internal yang berkecamuk di dalam pribadi remaja itu sendiri , maupun konflik eksternal dengan pihak lain seperti keluarga, guru , teman sebaya atau dengan orang dewasa lainnya .
A. konflik dengan keluarga
konflik dengan keluarga mungkin konflik umum yang sering terjadi pada remaja . beberapa penyebabnya adalah :
1.    perbedaan standar perilaku
konflik muncul saat remaja beranggapan bahwa standar perilaku yang ditetapkan oleh kedua orang tuanya saat ini sudah tidak relevan lagi dengan standar perilaku dirinya . standar perilaku itu bisa berbentuk oenentuan jam belajar , bagaimana memilih teman , cara berpakaian , samapai pada music yang didengar. “Mama sudah kuno”, “papa ketinggalan jaman “, adalah kata yang sering terlontar dari mulut remaja . itu adalah gambaran dari perbedaan standar perilaku tersebut .
          konflik itu semakin meruncing bila orang tua juga kurang bijaksana dalam memahami perubahan yang terjadi .Bahwa jaman sekarang sudah berbeda dengan jaman orang tua dulu waktu masih muda. pemaksaan perilaku yang diterapkan orang tua akan diterima dengan defensive oleh remaja .
2.    Metode Disiplin
penerapan metode disiplin adalah bagian dari standar perilaku yang diterapkan orang tua pada remaja . secara umum , metode disiplin yang biasa dijalankan para orang tua terbagi menjadi 3 pola yaitu : otoriter (keras), Permisif (lemah), dan demokratis yang memiliki banyak pilihan . Dari ketiga pola ini demokratis adalah pilihan yang terbaik karena memberikan banyak pilihan dan alternative kebijakan pada remaja maupun orang tua. demokratis tetap memberikan aturan walau juga menyediakan ruangan toleransi dengan alasan – alasan jelas dan bertanggung jawab . poladisiplin demokratis mendidik remaja menjadi lebih bertanggung jawab dan berani menerima resiko. Walau demikian , bukan berarti pola permisif dan otoriter tidak diperlukan . keduanya diperlukan tatkala waktu dan kondisinya memang membutuhkan . ada remaja yang pada waktu – waktu tertentu perlu dididik secara permisif . pada prinsipnya , penerapan pola disiplin ini sebaiknya disesuaikan dengan karakter remaja .
          konflik muncul jika penerapan suatu metode tidak sesuai dengan apa yang di inginkan remaja . Remaja menginginkan kebebasan , sebaliknya orang tua masih menganggap remajanya ini masih seperti anak kecil yang harus selalu dilindungi . bila dua kepentingan ini dari remaja dan orang tua tidak bertemu , maka remaja pun akan melakukan pemberontakan , secara langsung ataupun diam – diam , kembali kepada karakter remajanya . berdialog dan lesediaan orang tua untuk mendengarkan harapan anaknya yang sedang remaja adalah solusi yang terbaik untuk menyelesaikan konflik ini. SEbaliknya, sebagai remaja kamu juga perlu belajar untuk tidak memaksakan kehendak serta biasakan untuk berfikir mencari cara bagaimana membuka dialog dengan orang tua.
3.    Pemberia hukuman yang kurang proporsional
pada remaja yang  keluarganya menerapkan pola asuh otoriter , ketegasan dan kekerasan menjadi cirri utamanya . Tak jarang pemberian hukuman pun dilakukan sebagai upaya member efek jera padakesalahan dan pelanggaran disiplin dalam aturan keluarga. Bagi remaja , penerapan hukuman yang diterimanya di masa anak – anak dulu sudah tidak prosporsional lagi untuk dirinya saat ini . Remaja merasa sudah bukan anak – anak lagi sehingga pemberian hukuman tak pantas ia terima, walaupun dirinya melanggar peraturan keluarga. prostes atas hukuman yang di terima anak dari orang tuanya, akan memunculkan konflik antara anak dengan orang tuanya .
B.  Konflik dengan sodara Kandung
ketika anak – anak , mungkin kamu sering bertengkar dengan kakak atau adik mu . Pertengkaran itu berawal Dari hal – hal yang sepele seperti rebutan mainan atau karena diusili oleh kakak atau adik . kini di saat remaja, pertengkaran itu bisa kembali berlanjut dengan skala dan bentuk yang berbeda. kamu bisa bertengkar dengan kakk atau adik mu karena merasa diperlakukan tidak adil . Kamu merasa bahwa orangtuamu lebih sayang dan lebih perhatian pada kakak dan adik mu daripada dirimu. atau seperti pada saat pertengkaran muncul karena memperebutkan fasilitas yang ada seperti motor, computer, atau mobil.
     Hampir sama dengan cara menghadapi konflik dengan orang tua , kamu perlu belajar menahan diri menghadapi konflik ini . perasaan mendapat perlakuan yang berbeda dari orang tua perlu diteliti lebih dalam lagi apakah itu obyaktif atau sekedar rasa iri saja, karena bagaimanapun orang tua pasti akan selalu sayang pada semua anaknya tanpa membeda – bedakan . selanjutnya , kamu juga perlu melakukan dialog yang terbuka dan hangat dengan kakak atau adikmu . yakinlah bahwa ikatan persaudaraan kandung kalian jauh lebih penting dari konflik – konflik yang muncul diantara kalian . konflik akan mudah terselesaikan bial kalian mengingat persamaan ini, sebagai sesame saudara kandung yang mempunyai tugas sama ,yaitu membina keharmonisan keluarga.
C.   merasa menjadi Korban
pergaulan sosial lebih sering menuntut remaja untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan dimana dan dengan siapa ia bergaul . kecenderungan remaj akan memilih lingkungan dengan tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi atau paling tidak setara dengan tingkat sosial ekonomi keluarganya. hal ini mengakibatkan timbulnya perasaan bahwa dirinya pun harus memiliki fasilitas – fasilitas  yang setara dengan temannya. BIla temannya ada yang mempunayi motor , pakaian bagus, alat musik atau bahkan mobil – meskipun milik orang tuanya -  maka ia pun ingin memilikinya .
     keinginan ini mungkin tidak terlalu bermasalah bagi remaja yang berasal dari keluarga mampu, namun bagi remaja yang kurang mampu, remaja itu mearsa menjadi korban dari ketidakmampuan orang tua nya. Bila remaja tersebut merasa bahwa keinginannya harus terpenuhi, maka besar kemungkinan ia akan banyak meminta (merengek) kepada orang tuanya. Permintaan inilah yang akhirnya akan menimbulkan konflik dan pertentangan baru antara orang tua dan remaja.







 











Tidak ada komentar:

Posting Komentar